Konsumsi Serat Masyarakat Indonesia Rendah

MEDAN | DNA - Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Puslitbang Kesehatan RI menunjukkan bahwa konsumsi serat masyarakat Indonesia rata-rata hanya 10,5 gram perhari.  Angka tersebut masih rendah jika dibandingkan dengan standar minimal konsumsi serat yang dianjurkan oleh Badan POM RI sebesar 30 gram perharinya.  Kepentingan mekonsumsi makanan berserat hampir sering dilupakan.
 
Padahal serat makanan mampu memberikan manfaat yang sangat besar bagi kesehatan manusia.  Berangkat dari hal tersebut,  “Vegeta”  mengajak keterlibatan kader Tim Penggerak PKK Provsu untuk bersama mengajak masyarakat Medan memperhatikan asupan serat dalam menu harian keluarga.
 
Serat makanan (diatery fiber) adalah satu bagian makanan yang tidak dapat dianjurkan oleh enzim pencernaan manusia.  Kepentingan serat makanan bagi tubuh manusia hampir sering dilupakan.  Diantara manfaat serat yang paling sering dirasakan adalah melancarkan Buang Air Besar (BAB).
 
Konsumsi makanan berserat yang rutin setiap harinya terbukti mampu mencegah sembelit (wasir), menurunkan kadar kolesterol, mencegah obesitas, mengurangi resiko penyakit jantung dan potensi kanker usus.
 
“Sumber makanan berserat sebenarnya sangat mudah didapatkan di Medan, bahkan hampir disetiap daerah di Indonesia,”  Demikian diungkapkan Divisi Gastro Entero Hepatologi RSUP H. Adam Malik Medan Masrul Lubis SP. PD – KEGH Kamis (27/6/2013) dalam pemaparan sebagai narasumber kegiatan Seminar Kesehatan dan Media Briefing  “Solusi Kesehatan Pencernaan Keluarga”  di Hotel Emerald Garden Medan.
 
Menurutnya,  sumber makanan kaya serat seperti sayurmayur, buah-buahan, kacang-kacangan serta sumber makanan alternatif seperti olahan gandum merupakan sumber makanan berserat yang dapat diperoleh di Indonesia.
 
Memasukkan unsur sayur mayor, buah-buahan serta serta kacang-kacangan dalam menu makanan setiap hari mampu membantu memenuhi standar 30 gram konsumsi serat ideal setiap hari.
 
Sayangnya,  meskipun sumber makanan kaya serat tersebut sangat mudah didapatkan, berdasarkan data yang dirilis oleh Food and Agricilture Organization (FAO) pada tahun 2011 menunjukkan bahwa tingkat konsumsi sayuran masyarakat Indonesia hanya 35 Kg kapita per tahun.  Masih sangat jauh dari standar 75 Kg perkapita per tahun.
 
Sedangkan tingkat konsumsi buah-buahan masyarakat  Indonesia tergolong paling rendah di Asia Tenggara, jauh tertinggal di bahwah Singapura, Myanmar, Vietnam, Filiphina dan Malaysia.
 
Dr. Masrul Lubis menjelaskan bahwa alternative untuk membantu memenuhi kebutuhan tubuh akan serat saat ini dapat dilakukan dengan mengonsumsi suplemen serat.  Namun banyaknya suplemen serat yang ada dipasaranpun harus diperhatikan keberadaannya.
 
Suplemen serat alami yang menggabungkan unsur serat larut dan tidak larut lah yang menurutnya aman dikonsumsi setiap hari karena kandungannya yang memang diperlukan oleh tubuh.
 
Dukungan lintas sektor dengan menggandeng partisipasi elemen masyarakat untuk memberikan sosialisasi atas informasi yang tepat mengenai pentingnya memasukkan unsur serat kedalam menu makanan harian keluarga saat ini sangat diperlukan, terangnya.(dna/sugandhi)

0 Responses

Isi Komentar :

* ) semua komentar akan di moderasi