Polres Samosir Lamban Ungkap Kasus Pemerkosaan

MEDAN | DNA - Memiliki sakit bawaan epilepsi sejak kecil serta kesulitan dalam berkomunikasi verbal, MS (23), harus kembali merasakan kegetiran dalam hidupnya akibat diperkosa oleh orang tidak dikenal saat dirinya ditinggal orangtuanya yang pergi ke gereja untuk melaksanakan ibadah pada Minggu, (25/11/2012) tahun lalu, di desa Gorat, Kabupaten Samosir.

Peristiwa yang menimpa MS pun, membuat orang tua korban Renanti boru Simbolon, kesehatannya semakin hari semakin melemah. Ironisnya, biar telah dilaporkan ke Polres Samosir,  namun hingga saat ini, pihak Kepolisian Resor (Polres) Samosir berjalan di tempat mengungkap kasus MS, bahkan terkesan mengabaikan kasus pemerkosaan yang menimpa gadis malang MS.

“Sudah kami adukan ke polisi, tempat kejadian perkara sudah diperiksa oleh polisi dan adik kami sudah divisum, tapi sampai sekarang tidak ada kejelasan dari kasus yang menimpa adik kami,” ungkap kakak korban yang tinggal di Jakarta kepada Wartawan.

Kakak korban yang tidak bersedia disebutkan namanya ini kemudian melanjutkan bahwa orang tua serta adiknya yang menjadi korban hanya tinggal berdua di rumah peninggalan almarhum ayahnya, “Adik saya sangat trauma dengan kejadian ini, dan kondisi orang tua kami semakin lemah, karenaa ketidak pengungkapan jelasan kasus yang menimpa adik kami,” imbuhnya.

Dirinya juga akan mengadukan kasus ini kepada Kapolri dan Komnas HAM, jika Polres Samosir tak kunjung membuat tindakan nyata untuk mengusut kasus ini, “Kami akan ke Kapolri dan Komnas HAM, karena kami sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya agar Polres Samosir segera mengusut kasus yang menimpa adik kami MS,” keluhnya.

Menurut pengakuan kakak korban, kejadian ini bermula ketika orang tua nya yang tinggal di Simpang Gorat, desa Gorat Parlombuan, Kecamatan Palipi, kabupaten Samosir, pergi ke gereja untuk melaksanakan ibadah Minggu seperti biasanya. Karena MS sejak kecil telah mengidap sakit bawaan, Renanti selalu meninggalkan putrinya MS seorang diri di rumah dengan kondisi rumah dikunci dan diberi gembok tambahan, hingga terjadinya kejadian nahas yang menimpa MS pada hari Minggu 25 November 2012.

Ketika Renanti pulang dari Ibadah Minggu, MS memberitahu ibunya bahwa seseorang telah memperkosa dirinya.MS mengadu kepada ibunya dengan komunikasi menggunakan gerak anggota tubuh sambil menunjukkan cara serta perlakuan pelaku terhadap bagian tubuhnya serta organ intimnya.

Renanti tak mau percaya begitu saja, ibu berusia 52 tahun ini pun melihat sekeliling rumahnya untuk memastikan kondisi rumah mereka, dan Renanti mendapati teralis jendela rumahnya merenggang hingga membentuk celah yang dapat dimasuki pria dewasa.

Menyaksikan ini Renanti menjadi percaya atas cerita putrinya, dirinya pun terduduk lemas dan tidak tahu mau berbuat apalagi.Barulah sepekan lebih setelah peristiwa biadab yang dialami putrinya terjadi dan atas desakan keluarga, Renanti baru berani mengadukan kasus ini ke pihak Kepolisian Resor Samosir pada Rabu, 5 Desember 2012, dengan nomor laporan,  LP/211/XII/SPKT/SMR, tertanggal, 05 Desember 2012, yang diterima oleh Briptu. AP. Nainggolan dan turut ditandatangani Kanit SPKT Unit ‘III’, Aiptu. Junaidi.

Setelah melapor, atas permintaan pihak kepolisian Renanti membawa putrinya MS untuk menjalani visum di rumah sakit kepolisian yang berada di Pangururan, kabupaten Samosir.

Namun, hingga berita ini diturunkan, pihak keluarga tidak pernah tahu lagi penanganan kasus ini, “Sampai sekarang tidak jelas perkembangannya, malah salah seorang oknum polisi minta saya lapor ke Poldasu kalau tidak puas,” jelas kakak korban menceritakan kekecewaaannya atas kelambatan Polres Samosir menangani kasus yang menimpa adiknya.

“Itulah kenapa saya harus sampaikan masalah ini kepada wartawan sebelum kami adukan kepada Kapolri dan Komnas HAM,” pungkasnya.(sam/rel)

0 Responses

Isi Komentar :

* ) semua komentar akan di moderasi