Proyek Jalan Setapak Desa Pematang Setrak Tidak Sesuai RAB

TELUK MENGKUDU | DNA - Proyek jalan setapak (lingkungan) yang berlokasi di Desa Pematang Setrak, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai tidak sesuai dengan gambar (shop drawing) dan rencana anggaran biaya (RAB) yang menjadi petunjuk tekhnis dari Dinas Tarukim, Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Serdang Bedagai.

Pantauan wartawan dilokasi, pelaksana pekerjaan dari CV. Hari Ananda Djaya melakukan pengecoran   beton dengan ketebalan rata 4-5 cm saja. Padahal, berdasarkan RAB ketebalannya 12 cm, dengan perbandingan campuran 1 sak semen standar nasional Indonesia (SNI), 2 bagian pasir dan 3 bagian batu guli.

Sehingga, pekerjaan yang dilakukan kontraktor tersebut mendapat keluhan dari warga masyarakat setempat. “Sebelumnya kita bermohon kepada pemerintah kabupaten melalui musrenbang desa ataupun pertemuan dengan dinas terkait agar jalan yang dimaksud dilakukan pengerasan ataupun sejenisnya. Akan tetapi, jika sekarang dikerjakan oleh kontraktor manapun harusnya mereka profesional,”  ungkap Anwar Siregar kepada wartawan, Jum’at (14/12/2012).

Menurutnya, jika pekerjaan tidak sempurna, tetapi mendekati apa yang menjadi petunjuk dari RAB ataupun gambar hasilnya akan baik. Sehingga pekerjaan yang ditanggung P-APBD-BDB 2012 sebesar Rp. 200 juta tersebut, sambungnya, dapat bertahan lama dan dinikmati masyarakat banyak.

Pernyataan yang disampaikan menurutnya, karena masyarakat desa selama ini tidak berkutik dengan intimidasi dari oknum masyarakat yang mencoba mengail di air keruh, atau mengambil kesempatan di dalam proyek.Sehingga setiap kali masyarakat menyampaikan atau masukan yang positif demi kemajuan pembangunan di desa langsung di intimidasi dengan berlindung dibalik baju OKP.

Terkait dengan pekerjaan jalan setapak tersebut, masyarakat meminta untuk meninjau ulang pekerjaan dengan mengacu kepada RAB dan gambar. “Jika pekerjaan masih seperti sekarang, maka berdasarkan bukti dan fakta dilapangan proyek ini bisa diajukan ke proses hukum agar kontraktor dan
aparat pemerintah yang ‘bermain mata’ dapat diseret ke pengadilan,” tegas Anwar.

Masyarakat menilai, model pekerjaan yang dilaksanakan kontraktor diduga mengurangi bahan material dengan maksud mencari untung dengan biaya lebih minim, akan tetapi mengorbankan kepentingan masyarakat banyak.(DNA/Novriandy)

0 Responses

Isi Komentar :

* ) semua komentar akan di moderasi