Lahir Tanpa Anus, Seorang Bayi Perempuan di Lubuk Pakam Hanya Bertahan 2 Hari

LUBUK PAKAM I DNA - Pupus sudah harapan Rapina boru Simamora (30) warga Dusun IV belakang gereja HKI Desa Pagar Jati, Kecamatan Lubuk Pakam, untuk mempertahankan bayi perempuan yang dilahirkannya, pada Kamis (11/10/2012) sekira pukul 21.00 Wib. Pasalnya, bayi mungil yang terlahir tanpa anus itu, akhirnya meninggal dunia.  

Hingga kini, isak tangis masih menyelimuti kediaman ibu yang berprofesi sebagai tukang cuci itu,  padahal Rapina ibu si bayi yang sejak bulan April lalu itu ditinggalkan suaminya Monang Siahaan yang merantau di Pekanbaru, Riau. Disebutkan semenjak menikah dengan Monang beberapa tahun silam, kehidupan ekonomi Rapina sangat sulit. Untuk menopang biaya hidup, Rapina terpaksa bekerja serabutan yakni mencari upahan dengan bekerja di sawah orang lain hingga terpaksa menjadi tukang cuci. Melihat situasi makin sulit, Monang mengajak Rapina dan anak pertamanya bernama Fami (1,7 th) mengadu nasib di Pekanbaru, Riau.

Walaupun sudah berbadan dua (hamil) Rapina kembali ke kampung halamannya di Dusun IV Desa Pagar Jati, Lubuk Pakam. Memang dikampung itu, ada saudara Rapina yakni Ramses Simamora. Tapi Rapina tidak dapat berharap bantuan dari saudara laki-lakinya itu. Karena kehidupan ekonomi Ramses tergolong sulit dan pas-pasan.

Kesulitan ekonomi yang dialami Rapina, mengetuk hati pasangan keluarga F Manullang dan E boru Pakpahan menawarkan Rapina untuk tinggal di rumah yang disewa mereka. Jadilah Rapina tinggal di rumah permanen tanpa diplester itu.

Seiring waktu, kandungan Rapina kian hari kian membesar. Upah hasil mencuci pakaian yang tidak seberapa itu hanya cukup untuk biaya sehari-harinya saja. Sehingga Rapina sangat jarang melakukan pemeriksaan kandunganya akibat keterbatasan dana. Saat untuk melahirkan tiba bagi Rapina. Dengan dibantu bidan boru Sihite, Rapina melahirkan bayi tanpa anus. Mengetahui bayi perempuannya memiliki kejanggalan itu, Rapina hanya pasrah. Niat mau membawa ke rumah sakit diurungkannya karena tidak memiliki dana. Jumat (12/10/2012) malam, Rapina mau menyerahkan bayinya kepada seseorang yang berencana mengadopsinya. Entah mengapa dan tanpa alasan yang jelas, bayi itu gagal di adopsi.

Warga yang melihat kondisi bayi Rapina yang mulai membiru itu mencoba memberikan bantuan ala kadarnya termasuk untuk makan Rapina. Setelah warga berembuk, dengan fasilitas program Jaminan Kesehatan daerah (jamkesda) akhirnya bayi tersebut dibawa ke RSUD Deli Serdang. Setelah petugas medis memeriksa kondisi bayi, pihak RSUD Deli serdang merujuk bayi itu ke Rumah Sakit Adam malik di Medan. Karena kondisi bayi sudah sangat gawat darurat dan harus dilakukan operasi untuk membuat anus sementara.

Dibantu beberapa warga yang simpatik akan nasib Rapina, Jumat (12/10/2012) tengah malam, bayinya diboyong ke Rumah sakit Adam Malik. Tim medis rumah sakit milik Pemprosu itu langsung menangani bayi itu dengan intensif. Namun nasib berkata lain, Sabtu (13/10/2012) sekira pukul 10.00 Wib, bayi malang itu meninggal dunia. Mendengar kabar tersebut, Rapina menangis terisak meratapi penderitaannya.

"Sempat kami hubungi suaminya via telfon. Namun, setelah mendengar anaknya lahir tanpa anus dan butuh biaya, suaminya malah mengatakan itu bukan urusannya," tutur sebut warga, disela-sela pemakaman bayi milik Rapina di belakang rumah saudaranya Ramses Simamora. (sya I ds)

0 Responses

Isi Komentar :

* ) semua komentar akan di moderasi