Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tidak Berpihak pada Masyarakat Miskin

BANDUNG | DNA - Pertumbuhan ekonomi rata-rata secara nasional di Indonesia menunjukan tren yang positif di mata dunia, bahkan Indonesia dipandang sebagai salah satu negara berpendapatan menengah “Middle Income Countries (MIC)”. Namun, tampaknya pertumbuhan tersebut tidak sejalan dengan pendapatan golongan akar-rumput masyarakat Indonesia.

“Satu hari dalam koran yang sama kita bisa temukan, penjualan mobil di Indonesia ternyata mobil Alphard pada bulan ini terjual beberapa ratus. Sedangkan di bagian bawahnya masih ada orang yang ketar-ketir dengan hidupnya,” ujar Dr. Arief Anshory Yusuf ketika menjadi pembicara dalam Vivat Academia Seminar dengan tema “Kebijakan dan Keberpihakan Pembangunan” di Bale Sawala Gedung Rektorat Unpad Jatinangor.

Menurutnya, indikator yang dipakai dalam penentuan negeri ini sebagai negara berpendapatan menengah sangat tidak adil, karena indikator yang dipakai adalah melalui pendapatan per kapita berdasarkan rata-rata penghasilan orang Indonesia. Dari data yang ia tunjukkan maka MIC  dapat diraih oleh negeri ini karena penghasilan orang Indonesia secara rata-rata per bulan per keluarga menunjukan angka 9,2 Juta rupiah.

Salah satu paradoks lain yang ia tunjukan dalam seminar tersebut adalah melalui penghitungan angka garis kemiskinan secara internasional sebesar 2 dolar per hari per orang. Dijelaskannya, jika di-rupiah-kan sesuai dengan kebutuhan di negeri ini, maka angka 2 dolar tersebut akan sama dengan Rp. 12.000 per hari per orang “Jadi kalau bapak ibu buka dompetnya ada dibawah 12 ribu, mohon maaf bapak ibu miskin,” jelasnya.

Dari hitungan tersebut, maka angka garis kemiskinan orang Indonesia secara internasional per keluarga per bulan adalah Rp 1,4 juta, dan penduduk yang hidup dibawah Rp 1,4 Juta tersebut berjumlah 46% dari seluruh masyarakat Indonesia atau sekitar 106 Juta orang. Jika dianalogikan secara ekstrim, maka satu dari dua orang Indonesia itu miskin “Di satu sisi katanya income kita Rp 9,2 juta per bulan, tapi di sisi lain 106 juta orang masih miskin,” tuturnya.

Berdasarkan komparasi antar negara, angka 46% tersebut sangat berbeda jauh dengan negara-negara yang berjarak tidak terlalu jauh dari Indonesia. Sebut saja Cina yang pada tahun 2005 berangka 36%, Filipina 41% di tahun 2009, dan Vietnam  43% di tahun 2008 lalu. Jika disetarakan, maka berdasarkan angka garis kemiskinan tersebut maka negara kita setara dengan Pantai Gading di tahun 2008 dan Yaman di tahun 2005 lalu.

Dalam paparan lainnya, ia menunjukan angka bahwa 20% penduduk Indonesia menikmati 48% pendapatan nasional. Bahkan 0,01 persen atau sekitar 6.000 orang berpenghasilan 500jt/bulan. Sebuah angka yang sangat menakjubkan dan cukup untuk memperlihatkan bahwa pembangunan ekonomi di negara ini sangat tidak merata.

Dalam salah satu kurvanya, pertumbuhan pengeluaran Indonesia selama 5 tahun terakhir dari 2004 ke 2009 gambarnya menunjukan kurva menaik yang cukup tajam, artinya semakin orang kaya pertumbuhannya semakin tinggi. “Ini menunjukan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak berpihak, yang naik yang kaya,” tambahnya.

Dari angka-angka tersebut, Dr. Arief mencoba memberi solusi untuk mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Salah satu solusi yang cukup ekstrim adalah melalui penarikan sejumlah uang tertentu pada member  Facebook, salah satu media sosial paling populer di Indonesia. Jika misalnya orang Indonesia yang menjadi member facebook itu membayar 25 ribu rupiah per orang per bulan, maka akan terkumpul Rp 1,1 triliun per bulan atau Rp 14 triliun per tahun.

“Uang Rp 14 triliun ini, kalau kita bagikan ke orang miskin secara adil sesuai kemiskinannya maka orang miskin di Indonesia itu nol. Memang pada prakteknya tidak akan bisa sesimpel ini,” katanya.(samm/unpad)

0 Responses

Isi Komentar :

* ) semua komentar akan di moderasi