Nelayan Tradisional Resah Mencari Nafkah

MEDAN | DNA - Kalangan DPRD Sumut menilai, aksi pembakaran 5 pukat trawl (pukat harimau jenis gandeng dua) oleh nelayan tradisional di Bagan Asahan, beberapa waktu lalu  bukti lemahnya aparat terkait mengantisipasi keresahan nelayan serta tidak tegasnya menindak operasional Pukat Trawl di zona tangkapan nelayan tradisional, sehingga menimbulkan kekecewaan dan emosi nelayan, kemudian bertindak dengan "bahasa nelayan".

Hal itu diungkapkan anggota Komisi A dari Fraksi Demokrat  DPRD Sumut H Hasbullah Hadi, SH SpN, H Ahmad Ikhyar Hasibuan, SE dan anggota Fraksi Partai Demokrat H Buyung Khairul Fuad kepada wartawan, Selasa (10/01/2012) di DPRD Sumut menanggapi dibakarnya 5 Kapal Pukat Trawl oleh nelayan tradisional Bagan Asahan.

"Tindakan nelayan membakar 5 Pukat Trawl di Bagan Asahan, sebagai wujud ketidak-tegasan pemerintah, seperti (Diskanla, Syahbandar, Satker PSDKP (Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan) Tanjung Balai – Asahan, Kamla dan KP3) menertibkan operasional Pukat Trawl yang sudah sejak lama diprotes nelayan tradisional," tegas Hasbullah dan Khairul Fuad.

Menurut Hasbullah, keresahan dan kekecewaan masyarakat nelayan tradisional ini sudah lama disuarakan lembaga legislatif, termasuk mengundang pihak-pihak terkait dalam rapat dengar pendapat Komisi A agar seluruh operasional Pukat Trawl dilarang memasuki zona tangkapan nelayan tradisional, karena dianggap merusak biota laut serta mematikan kehidupan mereka.

"Tapi ternyata himbauan Komisi A tidak digubris aparat terkait dan tetap membiarkan operasiolan Pukat Trawl memasuki zona tangkapan tradisional nelayan, sehingga menimbulkan emosi dari para nelayan dengan melakukan pembakaran," tegas Hasbullah dan Buyung Khairul Fuad sembari menambahkan, aksi pembakaran ini merupakan titik kulminasi kekecewaan masyarakat nelayan.

Dalam aksi spontan pembakaran 5 Kapal Pukat Trawl ini, tegas Hasbullah, pihak aparat keamanan tidak bisa serta-merta menyalahkan nelayan tradisional, tapi sebaliknya, harus melindunginya, sebab akar masalahnya berawal dari dari ketidak-tegasan aparat terkait menertibkan pukat-pukat trawl yang nyata-nyata merusak ekosistem laut serta “mematikan” kehidupan nelayan tradisional.

"Jadi kita ingatkan, jangan nelayan tradisional yang ditindak, tapi pengusaha pukat trawl yang harus ditangkap serta Diskanla (Dinas Perikanan dan Kelautan) selaku pemberi izin operasional serta Syahbandar selaku pemberi izin melaut harus ikut bertanggung-jawab," tegas Buyung Fuad yang sejak awal sudah mengigatkan Diskanla maupun Syahbandar agar segera menyetop operasional Pukat Trawl.

Ikhyar Hasibuan bahkan menilai, tindakan nelayan tradisional melakukan pembakaran 5 Pukat Trawl sudah tepat, karena nelayan menganggap pemerintah tidak lagi dapat menertibkannya, sebab diduga telah ada kolusi antara pengusaha Pukat Trawl dengan oknum-oknum aparat terkait, sehingga nelayan menempuh cara yang mudah dengan biaya yang murah.

"Pasca kejadian itu, kita ingin melihat apa tindakan aparat terkait, apakah menertibkan operasional Pukat Trawl atau malah sebaliknya menertibkan nelayan tadisional," ujar Ikhyar sembari mengigatkan aparat penegak hukum jangan sembarangan menangkapi nelayan tradisional yang melakukan pembakaran, sebelum melakukan penertiban terhadap operasional Pukat Trawl yang selama ini sangat meresahkan masyarakat nelayan.

Lagi pula, ujar Ikhyar dan Buyung, mengapa selama ini keberadaan Pukat Trawl terkesan tidak tersentuh hukum, sehingga dengan leluasa melakukan operasional ke daerah zona nelayan tradisional, seolah-olah pengusahanya sudah “main mata” dengan oknum aparat terkait.

"Ini yang menjadi pertanyaan kita, mengapa nelayan tradisional terus dijepit, tapi pengusaha Pukat Trawl diberi kemudahan dan kebebasan mengeruk biota laut. Kasus ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, jika dibiarkan, kita kuatir aksi pembakaran Pukat Trawl jilid kedua akan terjadi," tegas ikhyar sembari meminta instansi terkait jangan sepelekan nelayan kecil, tapi harus dilindungi dari keganasan Pukat trawl.(DNA/syam/sugandhi)

0 Responses

Isi Komentar :

* ) semua komentar akan di moderasi