Diskriminasi Terhadap Komunitas Transgender

Kesalahpahaman terhadap kelompok transgender (bahasa populer: waria), seolah tiada berkesudahan. Setelah mengalamai diskriminasi dalam kehidupan sosial, kini beban mereka masih bertambah, mereka dianggap sebagai penyebar wabah HIV/AIDS.

Soal diskriminasi terhadap komunitas transgender inilah, yang menjadi topik bahasan program Agama dan Masyarakat, yang diselenggarakan KBR68H. Perbincangan kali ini bersama dua narasumber, masing-masing adalah Guntur Romli (pemikir muda Islam,  alumnus Universitas Al Azhar, Kairo), dan Sunniyah (seorang transgender,  yang sedang kuliah di Sosiologi Fisipol UGM).
 
Dalam pandangan Guntur, soal transgender sudah dibahas dalam Al Qur’an, khususnya surat Asy-Syura ayat 49-50.  Dalam tafsir yang akrab di kalangan peneliti Islam dan seksualitas, ayat ini bisa ditafsirkan sebagai penjelasan fenomena dua identitas gender, yaitu yang melintasi gender laki-laki dengan perempuan,misalnya dalam fenomena waria. Soal ketertarikan sesama jenis,  sering dikatakan bahwa itu alamiah, dia berdasarkan ciptaan  Allah, tidak ada yang bisa menentang. Pemahaman keagaman bahwa Allah bisa menciptakan apapun yang dia suka, apapun yang dia inginkan, termasuk transeksual maupun keberagaman identitas gender dan seterusnya. Jadi itu tidak bisa dianggap sebagai dosa, namun lebih sebagai takdir, sebagai keinginan dari Allah.
 
Sunniyah mengakui, bahwa transgender atau bukan, adalah takdir.  Kaum transgender memang terlahirseperti itu, bagi subyek tahunya dia perempuan, orang-orang sekitarlah yang mengatakan mereka laki-laki.Menurut penelitian, identitas gender itu terdapat di otak kecil kiri.

 Sekarang pertanyaannya siapa yang bisa menciptakan otak,  kenapa kita harus  dipersalahkan, kita cuma menjalani, kita tidak bisa mengklaim kitasebagai yang terbaik, namun kita berusaha untuk melakukan yang terbaik. Sunniyah menambahkan, selama ini  kaum transgender  selalu memperoleh diskriminasi, bahwa siapapun kalau mendapatkan diskriminasi akan sangat sulit mendapatkan apa yang terbaik buat dirinya.

"Kalau  diri saya sendiri, sudah ambilkeputusan, bahwa agama yang saya anut tidak membedakan laki-laki dan perempuan dalam banyak hal, termasuk ketika saya meyakini bahwa jilbab itu wajib bagi kaum perempuan, maka saya menggunakan jilbab," tegas Sunniyah.
 
Guntur mengutip pepatah lama, yang mengatakan manusia cenderung memusuhi apa yang dia tidak ketahui. Ketika kebencian terhadap, katakanlah waria, transgender, homoseksualitas, rata-rata mereka tidak tahu persoalan sebenarnya. Misalnya soal wabah HIV/AIDS selalu dikaitkan dengan homoseksualitas. Padahal orang yang hidup dengan HIV/AIDS itu lebih banyak orang-orang yang heteroseksual, mereka yang punya ketertarikan dengan lawan jenis. Wabah tersebut dianggap sebagai penyakit kutukan, dan kutukan itu ditimpakan kepada kaum yang terkutuk, yaitu homoseks. Ketidaktahuan inilah yang menyebabkan diskriminasi, dan juga pelecehan.
 
Sunniyah kembali mengingatkan, dalam tradisi masyarakat kita, waria sudah berperan sejak dulu, atau dengan kata lain, ada posisi tertentu yang selalu diisi oleh kaum waria. Salah satu yang bisa disebut adalah bissudalam tradisi Bugis, mereka
semacam pendeta atau tetua adat. Demikian pula di kerajaan Mataram Islam,dalam Tari Bedoyo itu penarinya rata-rata waria,  mengingat syarat menjadi penari Bedoyo  adalah dalam kondisi tidak menstruasi dan jumlah harus sembilan, sementara durasi tariannya sangat panjang, kalau perempuan yang normal agak sulit mendapatkannya,  akhirnya diambilah waria.

Terkait isu HIV/AIDS, Sunniyah menegaskan,  seorang waria  terlahir  tidak mengidap virus HIV/AIDS,  ketika badai diskriminasi datang, teman-teman (khususnya) yang  hidup di jalanan,  akhirnya tidak mendapatkan proteksi. Terlebihposisi tawar teman-teman itu sangat rendah, karena faktor pendidikan, faktor ketrampilan yang kurang memadai, di situlah teman-teman kita justru menjadi korban.

Artikel ini hasil kerjasama antara DNABerita dengan Kantor Berita 68H (KBR68H)

0 Responses

Isi Komentar :

* ) semua komentar akan di moderasi