Makkah Mulai Padat, Jamaah Haji Diminta Waspada

MAKKAH | DNA - Suasana Makkah yang benar-benar sudah dipadati jutaang jamaah haji, membuat jamaah haji harus waspada. Mulai saat ini mereka harus menyadari kondisi kesehatan badannya dengan baik. Para jamaah haji usia lanjut atau risiko tinggi (risti), diharapkan tidak memaksakan diri untuk selalu pergi shalat berjamaan di Masjidil Haram.

"Lalu lintas sudah sangat macet. Tak ada lagi mobil yang langsung ke Masjidil Haram. Sebelum sampai di sana mereka diturunkan. Akhirnya, jamaah harus berjalan kaki cukup jauh, sekitar satu kilometer dari pelataran Masjidil Haram," kata Harsono, petugas pelayanan jamaah tersesat, di Makkah.

Menurut dia, jamaah risti memang riskan bila berulangkali bolak-balik berjalan kaki ketika ke Masjidil Haram. Apalagi, kebanyakan dari mereka kerapkali mengalami sesat jalan ketika hendak pulang ke pondokan.

"Bayangkan, di tengah hiruk pikuk jutaan orang di Masjidil Haram mereka tersesat. Apa ini tidak berbahaya bagi kondisi kesehatannya. Lebih baik sekarang tinggal saja di pondokan dahulu. Simpan tenaga untuk ikut acara puncak haji di Arafah yang hanya kurang dari sepekan itu," ucapnya.

Indikasi jamaah banyak yang sakit memang sudah muncul dalam beberapa hari terakhir. Melalui data jamaah yang berobat di Balai Pengobatan Haji Indonesia di Makkah sebagian besar jamaah yang mengeluh sakit itu terkena flu. Ini terjadi karena kekebalan tubuh mereka menurun akibat kelelahan dan perubahan cuaca.

"Cuaca Makkah memang mulai sedikit mendingin. Ini juga berpengaruh. Apalagi mereka kan kelelahan karena sehabis menempuh perjalanan sangat jauh. Sakit flu itu terjadi karena menurunnya kekebalan tubuh," kata petugas penghubung kesehatan Daker Makkah, Abdul Hafidz.

Sikap waspada para jamaah juga makin diperlukan saat mereka hendak bepergian. Suasana kota Makkah yang hiruk pikuk dimanfaatkan para penjual jasa angkutan dengan menaikan tarif seenaknya. Angkutan taksi yang dahulu lazimnya seharga rata-rata maksimal 20 real, kini bisa melompat tak keruan harganya, yakni bisa sampai 50 real.

"Tak ada nilai baku harganya. Malah di puncak haji bisa sampai 200 real. Para sopir angkutan itu juga seringkali curang dengan menurunkan penumpang sebelum sampai ke tujuan. Alasanya, mereka klasik, yakni macet atau takut ditangkap polisi karena mobil angkutannya adalah bukan angkutan resmi," kata Fathor, mukimin Indonesia di Makkah.

Yang lebih parah lagi, lanjut Fathor, kecurangan para sopir angkutan itu kerapkali terjadi bila penumpang yang diangkutnya tak tahu jalan di Makkah. Mereka sengaja memilih jalan-jalan yang macet agar percaya bahwa perjalanan yang ditempuhnya jauh dan lama. "Ini modus lama. Mereka memang sengaja bertindak seperti itu ketika melihat ada orang baru naik ke mobilnya dengan wajah yang kebingungan," ujarnya.(DNA/mch)

0 Responses

Isi Komentar :

* ) semua komentar akan di moderasi