Gunung Sitoli Rawan Rabies

MEDAN | DNA-Kasus penyakit rabies di Sumatera Utara sejak tahun 2010 sebagian besar terjadi di Kepulauan Nias yang merupakan wilayah baru dan sebelumnya diketahui bahwa wilayah tersebut tidak pernah ditemukan kasus rabies. Tahun 2010, kasus rabies atau disebut Lyssa yang terjadi di Kepulauan Nias dan paling banyak terjadi yakni di Kota Gunung Sitoli dengan jumlah 18 kasus.

"Kemudian Kabupaten Nias sebanyak 5 kasus, Nias Selatan 1 kasus dan Kabupaten Nias Barat sebanyak 1 kasus,"kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, dr Chandra Syafei SpOG melalui Kepala Seksi Bimdal P2P Dinkes Sumut, Sukarni, kemarin.

Lebih lanjut dikatakannya, situasi di Kabupaten Nias Utara dapat diketahui bahwa jumlah kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR)  yang tercatat sejak bulan Januari-Agustus dan Nopember-Maret 2011 sebagian besar diantaranya belum mendapatkan VAR. Tahun 2010 itu juga, dari data jumlah kasus GHPR sebagian besar (97 persen) penderita sudah diberikan Vaksin Anti Rabies (VAR) dan hanya 3 persen yang belum diberi VAR. Namun, kasus lyssa yang muncul tinggi.

Sedangkan tahun 2011, kasus lyssa yang terbanyak ditemukan yakni di Nias Selatan dengan jumlah 6 kasus, 2 kasus di Kabupaten Nias, Kota Gunung Sitoli 2 kasus temuan, Nias Utara sebanyak 2 kasus dan dua kasus ditemukan di Nias Barat. "Dengan demikian, tahun 2010 hingga bulan Juni 2011 seluruh Kabupaten/Kota di Kepulauan Nias sudah dijumpai kasus rabies,"sebutnya.

Untuk upaya pengendalian rabies di Kabupaten Nias tahun 2010 menunjukkan hampir sebagian besar kasus GHPR telah diberikan VAR. Untuk tahun 2011, kasus lyssa sampai dengan bulan Maret di  kabupaten tersebut disbanding dengan kurun waktu yang sama tahun 2010 jumlahnya cenderung menurun yakni dari 5 kasus menjadi 1 kasus. "Hal ini tidak terlepas dari upaya pemberian VAR yang sudah banyak diberikan pada sebagian besar kasus GHPR," tandasnya.

Kasus lyssa di Nias Barat sendiri, upaya pengendalian penyakit yang belum dilaksanakan secara optimal. Dimana, sebagian besar kasus GHPR belum diberikan VAR. "Upaya pencegahan timbulnya kasus lyssa di Kabupaten Nias Barat perlu terus ditingkatkan, mengingat masih rendahnya upaya pemberian VAR dan menurunkan kasus GHPR," terangnya.

Untuk proporsi kasus GHPR yang sudah diberikan VAR di Kepulauan Nias tahun 2011-Mei 2011 yakni Gunung Sitoli dengan angka sebanyak 92 persen, Nias 87 persen, Nias Barat 60 persen, Nias Selatan 47 persen dan Nias Utara 45 persen. Di tahun 2011, proporsi pemberian VAR hamper sama dengan tahun 2010 dan beberapa kabupaten seperti Nias Selatan, Nias Utara dan Nias Barat angka pemberian VAR masih dibawah 50 persen dari kasus hewan penular rabies (HPR) di wilayahnya masing-masing.(DNA|mdn|ams) 

0 Responses

Isi Komentar :

* ) semua komentar akan di moderasi