Bundo Kanduang Rencanakan Seminar Pelestarian Budaya Minang

MEDAN | DNA - Berkaitan dengan pelestarian nilai nilai budaya Minang Kabau dan pembentukan karakter bangsa Indonesia dalam menghadapi perubahan sosial dalam kehidupan masyarakat khususnya masyarakat Minang yang sejalan dengan memperingati hari ulang tahun ke 50 Yayasan Bundo Kanduang pertengahan Mei 2011 akan menggelar seminar (panel diskusi) disalah satu hotel di Medan.

Demikian dikatakan  ketua umum Yayasan Yayasan Bundo Kanduang DR. Sitti Raha Agoes Salim, MSc didampingi fungsionaris Sugati, SH (notaris) dan ketua umum Ikatan Keluarga Balingka (IKB) Medan Drs. Leo Imsar Adnans kepada DNABerita Sabtu (23/ 4/2011) usai sosialisasi panel diskusi Yayasan Bundo Kanduang di Studio Radio Simphony FM Medan.

Dr. Sitti Raha menceritakan kilas balik asal muasal dan latar belakang terbentuknya organisasi Bundo Kanduang dan Tuanku Imam Bonjol. Ketika meletusnya peristiwa Pemberontakkan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) direntang waktu 1957-1959 sebagian pelajar dan mahasiswa perantauan yang ada di Medan terlantar dan mengalami kesulitan ekonomi karena terputusnya jalur hubungan Sumatera Utara (Medan) dengan Sumatera Tengah yang berdampak dengan terputusnya pula hubungan dengan orang dikampung (orang tua) .

"Situasi kondisi yang memprihatinkan yang terjadi pada pelajar dan mahasiswa Minang ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Sehingga para orang tua dan tokoh masyarakat Minang Kota Medan tergetar hatinya untuk segera memberikan
bantuan sebelum jatuh korban yang lebih besar lagi melalui gerakan menghimpun dana. Tidak berhenti sampai disitu perkumpulan masyarakat Minang ini selanjutnya menggagas penerusan pemberian bantuan dana secara berkesinambungan dengan bantuan pendidikan dan bea siswa. Disamping itu juga mengaktifkan dunia pendidikan, seni budaya Minang dan keagamaan," DR. Sitti Raha.

Dikatakannya, selanjutnya Prof.H. Achmad Darwis, Jenderal Abdul Mutholib, Proh. H. Mahadi, Prof. H. Achmad Sofyan, Drs. H. Sjoerkani, Agus Taman Zakaria, Zainuddin Tamin, Jan Tamin dan tokoh-tokoh masyarakat Minang lainnya memotori berdirinya Yayasan Tuanku Imam Bonjol. Tidak lama berselang atas usul dan saran Jenderal Abdul Mutholib dan Drs. Sjoerkani (mantan walikota Medan) didirikanlah Bundo Kanduang sebuah organisasi kaum ibu masyarakat Minang yang pendirinya juga adalah para istri fungsionaris Yayasan Tuanku Imam Bonjol yang tujuannya membantu Yayasan Tuanku Imam Bonjol dalam visi misinya mengembangkan seni budaya Minang, pendidikan dan keagamaan di Kota Medan.

Seiring dengan perkembangan kehidupan masyarakat, atas keputusan musyawarah sepakat organisasi Bundo Kanduang dan Tuanku Imam Bonjol ditingkatkan menjadi sebuah yayasan yang diberi nama menjadi Yayasan Bundo Kanduang Tuanku Imam Bonjol. Dalam kurun waktu 50 tahun berdirinya Bundo Kanduang maka direncanakan dalam waktu dekat (Mei 2011) akan mengadakan seminar dengan tema, "Melestarikan Nilai-Nilai Budaya Minang Kabau Melalui Pendidikan Informal Menghadapi Perubahan Sosial Dalam Pembentukan Karakter Bangsa," ujar DR. Sitti.

Selanjutnya Sugati,SH menjelaskan, pelaksanaan seminar juga diiringi dengan perlombaan mewarnai untuk anak-anak, lucky draw  dan penampilan kesenian adat budaya Minang Kabau. Tujuan seminar menjalin silaturahmi antar sesama masyarakat Minang perantauan di Kota Medan dengan menumbuhkembangkan dan mengenalkan nilai-nilai budaya Minang Kabau kepada generasi mudang Minang Kabau perantauan.

Pendaftaran dan informasi selanjutnya dapat menghubungi 061-4527640, sekretariat panitia Jalan Iskandar Muda No.25 Medan atau email bundokanduangmedan@ymail.com, terangnya.

Kontributor | S SIagian

0 Responses

Isi Komentar :

* ) semua komentar akan di moderasi