Diduga Terlibat Korupsi Pengadaan Obat Rp 3.7 M, Mantan Cawabup Nisel Ditahan

MEDAN | DNA - Mantan Kepala Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Nias Selatan, Rahmat Alyakin Dakhil. SKM.Mkes (40) warga Jalan Baloho Indah Kelurahan Teluk Dalam Kecamatan Teluk Dalam Nias Selatan pada Rabu (02/03/2011) sore, ditahan oleh tim penyidik  Pihak Penyidik Kejaksaan Tinggi Sumatra Utara.

Penahanan kepada Mantan Calon Wakil Bupati Nias Selatan ini, sekaitan untuk mempermudah proses lanjutan pemeriksaan terhadap adanya dugaan korupsi dalam pengadaan obat dan perbekalan kesehatan dengan nilai sebesar Rp 3.751.226.408,- Milliar yang bersumber dari APBD Kabupaten Nias Selatan Tahun Anggaran 2007.

Keterlibatan tersangka dalam kasus ini, beranjak dari proses pemeriksaan yang dilakukan oleh tim penyidik terhadap ketiga tersangka dimana berkas pemeriksaannya telah dilimpahkan ke Kejari Gunung Sitoli diantaranya Kristian Hondro sebagai Pejabat Pembuat Komitmen, Abrektus Manau selaku Ketua panitia pengadaan dan Direktur PT Safeta Rianda, Kendy Damanik ditemukan adanya indikasi kerugian negara sebesar Rp 2.073.934.041,- hal ini dikatakan Kasi Penyidik Pidana Khusus Kejati Sumatra Utara, Jufri SH MH kepda wartawan.

"Pelaksaan pengadaan obat dan alat kesehatan dengan cara penunjukan langsung dan rekanan yang ditetapkan adalah PT Safeda Rianda. Mengenai kegiatan pengadaan obat dan perbekalan kesehatan ini tidak disusun harga perkiraan sendiri (HPS) melainkan tersangka menyusun harga obat yang dibutuhkan di Kabupaten Nias Selatan dengan harga berpedoman  kepada keputusan Bupati Nias Selatan No 050/110/K2007 tanggal 10 Mei 2007 tentang penetapan harga bahan konstruksi, upah, ongkos angkut dan sewa gedung pada kegiatan proyek pembangunan Semester I di Kabupaten Nias Selatan TA 2007," ungkap Jufri.

Lebih lanjut, Jufri menegaskan seharusnya kegiatan pelaksanaan obat-obatan tersebut berpedoman kepada Keputusan Menteri Kesehatan Ri No 521/MENKES/SK/SK/VII/2007 tertanggal 24 April 2007. Dalam SK tersebut telah ditetapkan harga tertinggi obat apabila dijual oleh Pabrik/ Pedagang Besar Farmasi kepaa apotik, rumah sakit dan sarana pelayanan kesehatan yaitu harga kelompok tabel HNA + PPN, sedangkan harga jual apotik, rumah sakit, dan sarana pelayanan kesehatan tertera dalam kolom HET lampiran SK Menteri tersebut. Harga obat Generik tidak boleh dijual diluar batas harga yang telah ditentukan oleh SK menteri termasuk harga dan kena potongan pajak.

Meski dalam pelaksanaan mengacu kepada SK Bupati Nias Selatan, namun dalam pelaksanaanya yang dilakukan oleh pihak PT Safeta Rianda, dalam pendistribusian obat ternyata tidak lengkap sebagaimana yang tertera dalam surat perjanjian kontrak No : 640/0215/A/APBD/DINKES/X/2007 tertanggal 11 Oktober 2007, namun pihak panitia menyatakan obat lengkap sebagaimana isi BAP pekerjaan dengan Nomor : 640/071/obat/2007 tertanggal 19 November 2007 dan SP2D Nomor : 20/BL-LS/Bank Sumut/2007 tertanggal 23 November 2007.

Akibat perbuatan dipergunakan standart harga ibat yang dikeluarkan oleh Bupati Nias Selatan yakni Keputusan Bupati Nias Selatan No : 050/110/K/2007 tertanggal 10 Mei 2007 dan tidak mengacu kepada standar harga yang dikeluarkan oleh Menteri Kesehatan RI yakni SK 521/MENKES/SK/SK/VII/2007 tertanggal 24 April 2007. Dalam hal ini negara telah dirugikan Cq Pemkab Nias Selatan sebesar Rp 2.073..934.041,-.

Seharusnya harga obat jika dihitung sesuai dengan harga keputusan Menkes, sebesar Rp 1.126.191.814,- Dari hasil realisasi sebesar Rp 3.591.978.000,- dipotomg pajak sebesar Rp 391.852.145.- sehingga yang diterima sebesar Rp 3.200.125.855,- sehingga terdapat selisih harga sebesar Rp 2.073..934.041,- yang merupakan nilai total kerugian negara, yang berdasarkan hasil audit BPK RI Perwakilan Sumut, No: 185/XVIII.MDN/01/2011 tertanggal 20 Januari 2011.

Sementara itu tersangka, yang dibawa langsung ke Rutan Tanjung Gusta Medan tidak memberikan pernyataan sehubungan adanya dugaan kasus korupsi yang menimpa dirinya setelah diperiksa selama 8 jam di ruang Pidsus Kejati Sumatra Utara.

Reporter | Ichsan
 

0 Responses

Isi Komentar :

* ) semua komentar akan di moderasi