Fitnah Pendeta, Jemaat Gereja Disidangkan

MEDAN | DNA - Ninamawati boru Pandia (41) warga Jalan Deli Tua Desa Namo Bintang Kecamatan Pancur Batu, seorang Jemaat  Gereja Sidang Rohul Kudus Indonesia, disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Kamis (13/01/2011) sore, dikarenakan telah mencemarkan nama baik Tigor Marasi Marpaung.

Dimana terdakwa telah menunding Tigor selaku Pendeta Gereja Sidang Rohul Kudus Indonesia telah mencabuli dirinya dengan menyebarkan 10 lembar kertas yang berisikan informasi tindakan cabul yang dilakukan oleh Tigor kepada diri terdakwa.

Tidak terima dengan tundingan terdakwa dan merasa namanya telah dicemarkan oleh terdakwa, maka korban langsung melaporkan perbuatan terdakwa ke Polresta Medan pada 27 Juli 2010. Hal ini dikatakan Tigor dalam kesaksiannya pada persidangan dihadapan majelis yang diketuai M Sabir, penuntut umum Nerlilasari Hasibuan dan penasehata hukum terdakwa Bukit Sitompul.

Awal kejadian terungkapnya kasus ini, Tigor menuturkan bahwa pada 19 Juli 2010, adik saksi Elida br Marpaung menelpon korban dan menanyakan apakah benar korban telah membeli rumah dari terdakwa. Kemudian Elida menanyakan apakah benar juga bahwa abang juga telah berbuat amoral atau cabul, disaat itulah saya terkejut dan langsung menanyakan dari mana dapat infonya, lantas elida mendapatkan selebaran dari terdakwa yang menyebarkan di gereja dimana saksi menjadi pendeta, saksi juga menuturkan selain Elida, Roslindawati Purba juga mendapatkan selebaran yang menyatakan Tigor telah  berbuat cabul.

Menurut  saksi bahwa dirinya mengenal terdakwa pada tahun 2005 lalu, karena terdakwa adalah jemaat wanita dimana istrinya saksi juga pendeta. Namun pada tahun 2006 terdakwa menuturkan kesusahannya karena mempunyai hutang di Bank Mandiri senilai 20 juta. Saat itu terdakwa menawarkan mau menjual rumahnya, namun terkendala dengan surat-surat.

Kemudian ada niat dari korban untuk membantu terdakwa dengan melakukan pembayaran sebanyak 200 gram emas murni. Kemudian korbanmenyuruh terdakwa untuk datang ke rumahnya dikawasan Jalan Sei Wampu Medan, untuk mengecek surat kepemilikian rumah tersebut di bank.

Memang  selama proses untuk mendapatkan surat, korban memberikan HP tujuannya agar terdakwa bisa menghubungi korban kalau surat rumahnya sudah dikeluarkan oleh pihak bank. Meskipun surat kepemilikan rumah sudah keluar, korban dan istrinya mempersilahkan terdakwa untuk tinggal dirumah yang mereka beli dari terdakwa dengan sebelumnya menandatangi perjanjian hak huni sementara selama dua tahun.

Akan tetapi saya terkejut, bahwa niat saya untuk membantu kok malah dituduh telah melakukan amoral yang sama sekali tidak pernah dilakukan karena perbuatan tersebut sangat dilarang, ungkap sang pendeta.

Akan tetapi, terdakwa Nina membantah bahwa hp yang diberikan saksi itu tidak satu, akan tetapi dua karena anaknya dua, nah selain itu korban juga pernah memberikan uang Rp 100 ribu kepada masing-masing anaknya sebagai uang transport serta perhiasan cincin, gelang dan rantai.

Kalau soal pembayaran 200 gram itu, sama sekali tidak pernah saya terima justru surat rumah saya masih ditangan saksi korban yang menebus hutang saya di bank, nah kalau ada transaksi jual beli rumah itukan ada surat perjanjian akan tetapi sampai saat ini tidak ada diterimanya.

Begitu juga terdakwa mengaku juga beberapa kali diajak jalan berdua dengan saksi keliling kota Medan, dengan mobilnya. Disitulah aksi cabul itu dilakukan dimana saksi korban meraba-raba tubuh saya, "Saya pasrah karena surat  tanah saya masih ditangannya pak hakim,"ujar terdakwa. Kenapa saya berbuat itu, sebab surat rumah saya masih ditangan korban. Jika memang ada bukti jual beli maka tentunya ada surat perjanjian pak hakim.

Menanggapi pernyataan terdakwa, saksi korban tetap pada pernyataan semula yakni untuk menolong, kalau mengenai uang yang diberikan itu hanya sekedar ingin membantu, sedangkan perbuatan cabul seperti yang diutarakan terdakwa itu bohong, ucap Tigor. Untuk selanjutnya sidang ditunda hingga hingga pekan depan untuk mendengarkan kesaksian dari para saksi yang mengetahui tentang permasalahan itu termasuk istri korban, ucap majelis sebelum menutup persidangan.

Dimana perbuatan terdakwa, dikenakan pasal 311 ayat (1) KUHP subsidair pasal 310 ayat (1) KUHP. Usai persidangan baik terdakwa maupun saksi korban langsung meninggalkan gedung pengadilan.

Reporter | Ichsan

0 Responses

Isi Komentar :

* ) semua komentar akan di moderasi